Pages

Jumat, 19 Oktober 2012

AKUN PSEUDONIM DI TWITTER DAN HUBUNGANNYA DENGAN TEORI KEHENINGAN SPIRAL #bridgingcourse09



AKUN PSEUDONIM DI TWITTER DAN HUBUNGANNYA DENGAN TEORI KEHENINGAN SPIRAL

Dewasa ini, penggunaan jejaring sosial sebagai media informasi dan komunikasi tengah mencapai masa keemasannya. Lingkup pengaruh jejaring sosial kini mencakup semua aspek kehidupan sehari-hari masyarakat modern pengguna internet. Mulai dari politik, sosial-budaya, hiburan, kuliner, hingga pengetahuan-pengetahuan umum, semua dapat diakses lewat jejaring sosial. 
            Salah satu jejaring sosial yang saat ini memiliki pengaruh paling kuat dalam kehidupan sosial masyarakat adalah twitter. Jejaring sosial dengan logo burung berwarna biru menjadi suatu budaya populer yang sukses membuat orang-orang di seluruh dunia kecanduan. Sebagai suatu budaya pop, twitter ini berisi ekspresi otentik dari visi dan aspirasi publik. 
            Sebagian besar pengguna twitter di seluruh dunia memajang nama asli atau panggilan beserta data diri dan foto masing-masing pada akunnya. Namun, twitter tidak melarang adanya akun tanpa admin atau pengguna yang jelas. Menurut Paramita (2012), “Akun-akun tersebut, mungkin lebih tepat kalau diistilahkan sebagai akun pseudonim dibandingkan akun anonim. Anonim bermakna tidak bernama, sedangkan pseudonim, bisa dimaknai sebagai nama samaran. Karena akun-akun tersebut menggunakan berbagai macam nama, maka istilah pseudonim sebenarnya lebih sesuai”.
            Akun-akun tanpa identitas yang jelas ini beragam macamnya. Ada yang berisi pesan-pesan positif seperti quote, tips, nasihat dan pengetahuan. Namun, ada juga yang berkonotasi negatif seperti informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan isu-isu yang meresahkan masyarakat. Tetapi yang akan menjadi fokus dalam penulisan kali ini adalah akun yang berisi opini-opini dari sang pemilik.
            Munculnya akun-akun pseudonim berisi opini-opini ini membuktikan teori Spiral of Silence dari Noelle Neuman, seperti yang disebutkan dalam buku Theories of Human Communication karya Little John (2008:16) :
“Kadang orang lebih suka menyimpan pendapat mereka daripada mengungkapkannya. Inilah yang disebut ‘keheningan spiral’. Keheningan spiral ini terjadi ketika dalam diri seseorang muncul perasaan bahwa pendapatnya harus diungkapkan dan di lain pihak juga ada perasaan pendapat tersebut tidak perlu diungkapkan atau dikeluarkan.”
            Silence of spiral ini terjadi akibat adanya perasaan was-was akan adanya hukuman sosial dari masyarakat atau kelompok. Seseorang akan berhati-hati dalam berbicara dan mengungkapkan pendapatnya agar tidak dipandang aneh, menyebalkan atau menyimpang oleh masyarakat. 
            Dengan adanya sosial media seperti twitter, kekhawatiran terhadap hukuman sosial tersebut sirna. Pengguna dapat menyalurkan pendapatnya tanpa takut identitas aslinya diketahui oleh publik. Sehingga opini yang tertuang dalam akun pseudonim tersebut cenderung lebih blak-blakan.
            Dalam teori Silence of Spiral ini juga disebutkan, bahwa seseorang akan mencari orang atau kelompok yang memiliki opini yang sama. Hal ini dikarenakan opini yang dapat diterima adalah opini yang merujuk pada sentimen kolektif dari sebuah populasi terhadap subjek tertentu. Sehingga persetujuan orang lain terhadap sebuah opini dianggap sangat penting. “Social media seperti twitter jelas merupakan wahana yang sangat potensial untuk menggiring opini publik,” (Parikesit, 2012).
Karena itu, wajar saja apabila kemudian akun-akun ini memiliki jumlah follower yang tidak sedikit. Pengguna twitter lain yang setuju terhadap opini yang disuarakan oleh akun anonim tersebut akan mengamini dengan fasilitas tombol retweet yang tersedia. Pengaminan opini juga dapat dilakukan dengan cara mem-follow akun twitter tersebut. 
Pada akhirnya, alasan mengapa akun-akun pseudonim ini ada dan begitu populer adalah  karena orang akan mencari pembenaran dari opini-opini yang mereka miliki sehingga dapat diterima orang lain.
             
DAFTAR PUSTAKA

Downing, John D.H. (2001). Radical Media: Rebellious Communication and Social Movements. USA: Sage Publications, Inc.

John, Little. 2008. Terjemahan: Theories of Human Communication. Archived at: http://dheweeq.multiply.com/journal/item/9/terjemahan-aku-n-tmn2-little-John100rb-lebih...hahaha?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem (Saturday, October 13th , 2012 11:40:08 PM)

Paramita, Rahadian P. (2012). Akun Anonim Dianggap Meresahkan, Diusulkan untuk Dimonitor. Updated By: February 7th 2012. Archived at: http://m.salingsilang.com/baca/akun-anonim-dianggap-meresahkan-diusulkan-untuk-dimonitor (Saturday, October 13th , 2012 11:40:08 PM)

Parikesit, Arli. 2012. Bagaimana Menyikapi Akun Anonim Twitter. Updated By: September 29th 2012. Archived at: http://kecopbioinfo.blogspot.com/2012/09/bagaimana-menyikapi-akun-anonim-twitter.html (Sunday, October 14, 2012 12:01:54 AM)

Thoyibie Latif. 2009. Spiral of Silence Theory. Updated By: May 27th, 2009. Archived at: http://komunikasi-indonesia.org/2009/05/teori-spiral-keheningan/ (Monday, October 15, 2012 05.54 AM)

Sabtu, 13 Oktober 2012

Menggali Fosil Ketoprak #bridgingcourse08

Menggali Fosil Ketoprak

Di tengah maraknya tayangan hiburan di televisi yang saat ini didominasi oleh film-film barat, drama Korea, sinetron-sinetron, serta acara-acara musik, seni panggung Ketoprak seolah telah hilang dari ingatan masyarakat. Kesenian asal Jawa Tengah ini telah tenggelam dalam arus modernisasi. Padahal dulu, Ketoprak memiliki tempat istimewa di lingkungan masyarakat. Seni pementasan ini dahulu begitu dihormati dan dikagumi karena menampilkan sebuah pertunjukan yang mengombinasikan seni peran, seni musik dan sastra sekaligus. Bahkan beberapa kelompok Ketoprak menambahkan unsur seni tari dalam pementasannya. Selain itu, sandiwara yang dilakonkan dalam setiap pertunjukan ketoprak ini sarat akan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa dan juga pesan moral.
            Di akhir era 90-an, saat Ketoprak mulai kehilangan peminatnya, para pecinta kesenian Jawa tersebut masih belum menyerah. Mereka mengemas pementasan  ketoprak dengan memasukkan unsur humor di dalamnya. Tayangan “Ketoprak Humor” yang disiarkan di 2 stasiun televisi merupakan bukti perjuangan para pecinta kesenian Ketoprak kala itu. Pelawak-pelawak ternama juga turut berpartisipasi dalam upaya melestarikan kebudayaan asli Jawa ini. Sebut saja Topan, Lesus, Timbul, dan Tessy. Nama-nama tersebut merupakan contoh pelawak-pelawak yang ikut meramaikan tayangan Ketoprak Humor ini.
 Acara tersebut sempat menjadi hits serta memperoleh rating penonton yang tinggi, meskipun disiarkan menjelang tengah malam. Sayangnya, popularitas tayangan tersebut tidak bertahan lama karena kalah bersaing dengan sinetron-sinetron bertema roman dan kehidupan remaja yang saat itu mulai memenuhi siaran televisi di awal 2000-an.
            Sekarang, bukan hanya bangku penonton pementasan Ketoprak yang sudah ditinggalkan penghuninya, televisipun enggan memberikan porsi untuk penayangan kesenian rakyat yang satu ini. Alasan mengapa Ketoprak dan kesenian tradisional lainnya begitu sulit mendapat kesempatan untuk tampil di televisi karena tayangan-tayangan semacam ini dianggap kurang mampu menarik perhatian pemirsa. Padahal, televisi merupakan sumber hiburan pokok masyarakat Indonesia saat ini. Akibatnya, kecintaan terhadap seni pementasan Ketoprak tidak terwariskan kepada generasi selanjutnya dan perlahan-lahan hilang dari peredaran.
            Jika kita amati, kesenian tradisional semacam Ketoprak ini memiliki nilai kearifan budaya bangsa serta menjadi bukti bahwa nenek moyang kita sebenarnya sudah sangat maju di bidang seni. Unsur-unsur yang terdapat di dalam Ketoprak ini pun memiliki potensi yang tinggi untuk dapat memikat para wisatawan asing. Terbukti dengan banyaknya pelajar asing yang berminat mempelajari gamelan yang merupakan salah satu unsur pokok seni Ketoprak. Contoh lainnya juga dapat dilihat bagaimana pentas teater dan tari Ramayana yang rutin digelar di kompleks Candi Prambanan tidak pernah sepi penonton. Hal ini membuktikan bahwa Seni Ketoprak masih memiliki potensi untuk dapat dibangkitkan dan dikembangkan.





Sabtu, 06 Oktober 2012

Nasib Industri Game Memburuk #bridgingcourse07

           Nasib Industri Game Memburuk

Saat kita berbicara tentang industri game, mungkin hal yang terbayang pertama kali dalam benak kita adalah sebuah industri hiburan raksasa tempat para jenius di bidang kreatif bekerja, meliputi game developer, designer, programmer maupun game tester. Industri multi-billionaire ini telah mempekerjakan ribuan karyawan di seluruh dunia setiap tahunnya dan memberi kontribusi besar terhadap perkembangan teknologi yang ada sekarang ini.

Sayangnya, beberapa tahun belakangan ini, industri game seperti sedang diterpa angin kencang. Banyak kabar-kabar yang kurang mengenakkan ditujukan kepada perusahaan dan para pecinta game. Pasalnya, di beberapa negara pusat game dunia seperti Amerika dan Jepang, penjualan perangkat lunak dan juga konsol game mengalami penurunan yang cukup signifikan. Penurunan angka penjualan perangkat lunak dan konsol game tersebut didukung pula oleh penurunan jumlah gamer itu sendiri, terutama di 3 negara pusat gamer dunia, yaitu Amerika, Eropa, dan Jepang.

            Turunnya pendapatan perusahaan game ini juga berdampak langsung pada manajemen perusahaan game tersebut. Salah satu perusahaan yang merasakan dampak dari turunnya pendapatan perusahaan tersebut adalah Sony. Perusahaan raksasa yang sejak lama dikenal sebagai salah satu penggerak industri game dan konsol taraf internasional ini terpaksa menutup salah satu studio game tertuanya di Liverpool karena kondisi keuangan yang tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Beberapa perusahaan game lain seperti Popcap pun terpaksa merumahkan puluhan, bahkan ratusan karyawannya untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.

Salah satu penyebab mengapa angka penjualan perangkat lunak dan konsol game tersebut mengalami penurunan adalah beralihnya konsumen game dari perangkat console dan PC ke perangkat yang lebih bersifat mobile, seperti smartphone dan tablet. Popularitas smartphone dan tablet yang kian menanjak ini memberi dampak yang besar  kepada penurunan industri game inti (console gaming dan pc gaming). Hal ini disebabkan oleh rutinitas masyarakat saat ini menuntut manusia untuk terus mobile sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk stay di rumah dan bermain game inti seperti PC ataupun konsol game lainnya seperti play station, xbox dan Nintendo.

Selain itu, beberapa alasan lain yang sering dikemukakan perihal pilihan konsumen untuk lebih memilih smartphone dan tablet ini secara garis besar ada dua. Alasan pertama berkait dengan biaya yang harus dikeluarkan. Harga software untuk smartphone dan tablet relative lebih murah dan bersahabat. Bahkan beberapa game dan aplikasi dapat diunduh secara gratis.  Kemudian alasan yang kedua, kepraktisan layanan yang ditawarkan untuk memperoleh game smartphone dan tablet. Konsumen hanya perlu browsing ke application store, memilih game yang diinginkan, dan menginstallnya. Voila, game baru sudah siap untuk dimainkan. Tentunya kedua hal tersebut  menjadi daya tarik sendiri bagi para konsumen, terutama untuk masyarakat yang saat ini mobilitasnya semakin tinggi.

            Di samping hal-hal yang telah disebutkan di atas, ada sebab lain yang bertanggung jawab atas turunnya penjualan perangkat lunak tersebut, yaitu pembajakan. Maraknya pembajakan yang sebagian besar dilakukan oleh hacker-hacker ulung ini tentunya berdampak langsung terhadap tingkat penjualan. Perusahaan game Ubisoft, merupakan salah satu perusahaan yang mengalami kerugian besar akibat tindakan pembajakan yang dilakukan oleh para hacker, karena presentasi pembajakan terhadap produk versi PC mereka mencapai 95%.

Maraknya pembajakan ini tentu tak luput dari masalah ongkos. Mahalnya harga perangkat lunak asli dan kemudahan untuk mendapatkan game bajakan tentu membuat konsumen lebih memilih versi bajakan dibandingkan versi aslinya. Tidak seperti masalah-masalah yang diungkapkan sebelumnya, untuk masalah pembajakan ini, tentunya dibutuhkan kesadaran diri masing-masing untuk memerangi pembajakan tersebut dengan membeli dan menggunakan versi aslinya.

           

Jumat, 28 September 2012

Pemanfaatan Budaya Alay dalam Persaingan Operator Seluler #bridgingcourse06


Pemanfaatan Budaya Alay dalam Persaingan Operator Seluler

Alay, atau yang biasa disebut sebagai anak layangan, merupakan budaya pop yang lahir di Indonesia (sering disamakan dengan jejemon yang berasal dari Filipina). Istilah ini merupakan stereotype yang digunakan untuk medeskripsikan sesuatu yang dianggap norak, kampungan, atau berlebihan. Penggunaan istilah alay ini sangat luas. Tidak terbatas pada sikap atau sifat seseorang saja, namun juga selera musik, cara berbicara, cara berpakaian, dan juga kata-kata yang digunakan baik dalam percakapan sehari-hari, maupun dalam pesan tertulis.
Budaya alay ini diperkirakan muncul saat puncak popularitas band-band melayu asal Indonesia (yang kemudian juga mendapat predikat sebagai “band-band alay”). Cara bernyanyi, berpakaian, dan berbicara para personil band-band tersebut kemudian diikuti dan diperbincangkan secara berlebihan oleh para penggemar-penggemarnya yang sangat aktif di jejaring sosial, terutama Facebook (yang saat itu juga sedang mencapai puncak popularitasnya seagai jejaring sosial yang paling banyak digunakan). Hal-hal ini kemudian merebak dan terciptalah standar paten untuk fenomena alay tersebut
Di antara objek-objek seputar gaya hidup dalam budaya alay tersebut, bisa jadi pemilihan kata-kata dalam bahasa tulis merupakan yang paling menonjol. Contohnya, penggunaan angka untuk mengganti huruf-huruf tertentu, variasi huruf besar-kecil dalam satu kata, tambahan huruf “z” di setiap akhir kata, cara menyingkat kata-kata secara berlebihan, serta tanda baca yang dapat muncul di mana saja merupakan beberapa contoh budaya alay dalam bahasa tulis yang paling mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan kata-kata alay tersebut dalam kehidupan sehari-hari sering dianggap merusak aturan tata baku EYD ( ejaan yang disempurnakan) karena banyaknya hal-hal menyimpang dalam penulisan bahasa tulis tersebut. Bahasa tulis yang dianggap alay tersebut juga mendorong munculnya kata-kata slang baru dalam bahasa sehari-hari dan menjadi lebih sering digunakan daripada bentuk kata aslinya. Contohnya adalah kata-kata seperti “ciyus?” dan “miapah?” (merupakan bahasa slang dari kata “serius?” dan “demi apa?”)  yang muncul akibat penyimpangan terhadap EYD tersebut. Selain itu, kata-kata yang dihasilkan lewat cara penulisan alay tersebut sering kali tidak dapat diucapkan dan sulit dimengerti.
Meskipun dianggap sebagai perusak tatanan baku EYD dalam bahasa Indonesia, namun budaya alay tetap tumbuh subur. Bahkan dewasa ini, kata-kata slang yang muncul cenderung semakin bervariasi.
Fenomena unik ini kemudian menarik minat para kreatif periklanan untuk mengangkat budaya alay tersebut untuk mempromosikan produk-produk mereka. Budaya alay tersebut dianggap sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat, dengan harapan iklan yang dihasilkan akan lebih mudah menarik perhatian konsumen dan lebih mudah diingat.
Contoh nyata dari penggunaan budaya alay dalam industri periklanan yang paling mencolok dapat dilihat dari persaingan iklan operator seluler. Iklan operator hampir selalu diperbarui setiap bulannya, dan banyak dari mereka yang mengangkat fenomena alay ini sebagai ide utama dari iklan, yang sekali lagi, menggunakan kata-kata ataupun bahasa tulis khas “bahasa alay”.
Salah satu operator seluler yang telah memanfaatkan fenomena alay tersebut adalah IM3, dengan iklan yang menjadikan kata “kamseupay” (merupakan kepanjangan dari “kampungan sekali, udik dan payah” yang dipopulerkan oleh Marrissa Haque via blog pribadinya) sebagai ide utama. Iklan tersebut merebak dengan sangat cepat dan menjadi salah satu iklan yang paling memorable di TV saat itu karena menggunakan kata-kata populer dari bahasa alay tersebut. Pengaruhnya terhadap konsumen adalah, hal ini membuat pemirsa yang menonton iklan akan mengingat produk operator seluler tersebut saat mendengar kata kamseupay, sehingga misi iklan untuk membuat produk tersebut membekas di ingatan konsumen bisa dikatakan berhasil.
Selain itu, ada pula iklan dari Axis, versi “berpelukan”. Pada salah satu scene iklan tersebut, nampak sebuah kalimat pesan pada layar HP seorang gadis SMA yang berbunyi, “ K4mu mau jadi pacarku?” Dapat kita lihat dalam scene tersebut kata “kamu” yang diubah menjadi “K4mu” jelas menjadi salah satu contoh ciri-ciri budaya alay seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Setelah itu, scene-scene berikutnya pun menampilkan orang-orang yang mengekspresikan perasaannnya secara berlebihan terhadap hal-hal sepele. Meskipun jelas, adegan-adegan ini dibuat dengan konteks humor.
Contoh lain dari pemanfaatan budaya alay dalam persaingan pihak-pihak operator seluler adalah munculnya layanan sms alay. Layanan sms alay yang dikeluarkan oleh Telkomsel ini memungkinkan sms seseorang untuk diubah menjadi tulisan dan bahasa alay dengan biaya Rp 110,- per sms. Pada kasus ini dapat dilihat bagaimana kelihaian pihak operator seluler tersebut menemukan peluang di balik fenomena alay.
Mungkin bagi sebagian orang layanan tersebut terdengar konyol, tidak penting, dan terkesan mengada-ngada, “Untuk apa layanan seperti itu ditawarkan?” Namun pada kenyataannya, layanan tersebut memang digunakan oleh sebagian orang lainnya. Meskipun hanya sekedar untuk lucu-lucuan, iseng, penasaran, ataupun alasan yang lain.
Dari semua contoh-contoh di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, budaya alay ini memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap persaingan produk operator seluler di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan cara berkomunikasi yang sering kita lakukan sehari-hari baik lewat kata-kata maupun lewat bahasa tulis. Di mana hal tersebut merupakan salah satu aspek yang paling menonjol dalam lingkup budaya alay.

Sabtu, 08 September 2012

Iklan Djarum 76 Versi Kontes Jin #bridgingcourse02




 


Iklan Djarum 76 Versi Kontes Jin
            Iklan-iklan rokok yang tayang di televisi selalu unik dan menarik untuk disimak. Hal ini  disebabkan oleh adanya larangan untuk menampilkan contoh produk rokok itu sendiri di layar televisi. Sehingga, merk-merk rokok ini berlomba-lomba menampilkan iklan yang dapat menarik perhatian masyarakat dan mempromosikan tagline masing- masing agar merk rokok itu sendiri mudah diingat oleh konsumen tanpa  menampilkan rokok yang merupakan produk dari perusahaan tersebut.
Di antara iklan-iklan rokok yang saat ini tayang di televisi, rangkaian iklan dari rokok bermerk Djarum 76 mungkin menjadi iklan rokok yang saat ini paling populer. Rangkaian iklan rokok Djarum 76 ini menampilkan sesosok jin yang cukup unik, yaitu jin dengan pakaian adat Jawa lengkap beserta bahasa dan logat khas orang Jawa sebagai tokoh utama. Tingkah lakunya yang slengekan dan nyeleneh merupakan salah satu sebab mengapa ia begitu memorable di ingatan para pemirsa televisi, meskipun jin ini hanya muncul selama kurang lebih 30 detik. Kata-kata khasnya yakni, “Wani pira?” inipun telah menjadi suatu tren yang populer dan sering ditirukan dalam percakapan sehari-hari.
Jin Jawa ini selalu mengangkat fenomena sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Contohnya, iklan “Wani Pira?” “Preman-preman dan Kuda Poni,” “Suami Takut Istri,” “ Pingin Kaya, Pingin Ganteng,” dan lain-lain. Namun, yang menjadi nilai plus dari rangkaian iklan rokok Djarum 76 ini adalah meskipun disampaikan dengan jenaka, namun memiliki nilai moral yang mendalam.
Beberapa bulan yang lalu, merk rokok dengan tagline “Yang penting hepiiii…!!!”  ini menayangkan iklan terbaru. Iklan tersebut bertajuk “Kontes Jin”. Bercerita tentang kontes jin internasional yang diadakan untuk menguji sejauh mana kesaktian 3 jin finalis dan untuk menentukan siapakah jin yang terbaik di antara mereka. Dalam kontes ini, mereka berlomba untuk menghilangkan sesuatu, dan yang menjadi kriteria penilaian dari kontes tersebut adalah, seberapa besar benda yang sanggup mereka hilangkan.
Kontestan pertama yang unjuk kebolehan adalah Jin yang berasal dari Timur tengah, ia berhasil menghilangkan piramid dari tanah Mesir. Kemudian giliran finalis kedua yang berasal dari negara Jepang. Dengan satu tarikan nafas  ia berhasil menghilangkan Gunung Fuji, lalu ia tertawa bangga atas hasil kerjanya.
            Kemudian hal yang aneh terjadi ketika jin yang berasal dari Jawa ini mendapat giliran untuk tampil.  Ia terlihat berjalan ke tengah panggung dengan tergopoh-gopoh sambil menggotong tumpukan berkas-berkas yang menjulang tinggi, kemudian ia  menghilangkan tumpukan berkas tersebut. Mulanya kontestan lain tertawa, mereka menganggap bahwa menghilangkan tumpukan kertas seperti itu adalah hal yang remeh dan tidak sebanding dengan piramid dan Gunung Fuji yang telah mereka hilangkan sebelumnya. Namun dengan santai ditambah mimik muka yang sok, Jin Jawa ini  berkata, “Kasus korupsi, hilang!!!”
            Sontak penonton kontes jin yang mayoritas berjas dan berseragam safari (melambangkan pejabat dan pegawai pemerintah) yang ada di ruangan tersebut bersorak sorai dan saling bersalam-salaman meluapkan kegembiraan. Apabila kita jeli melihat, tampak ada parodi dari sosok Gayus Tambunan di front row bangku penonton kontes tersebut. Ia pun tampak gembira sembari berjabat tangan dan diberi ucapan selamat oleh rekan-rekannya.
            Kedua jin yang lain kemudian bersujud-sujud mengaku kalah. Kemudian jin Jawa tersebut dinyatakan sebagai pemenang karena keberhasilannya menghilangkan berkas-berkas kasus korupsi.
            Mulanya saya pikir jin Jawa ini muncul sebagai tokoh heroik karena ia memilih untuk  menghilangkan kasus-kasus korupsi, namun setelah scene di mana para pejabat dan pegawai pemerintah yang menjadi penonton kontes tersebut bersorak-sorai serta munculnya sosok Gayus Tambunan di front row kontes tersebut, baru dapat disimpulkan bahwa yang dihilangkan oleh jin Jawa tersebut bukanlah perkara kasus korupsi yang sebenarnya, tapi yang ia hilangkan adalah berkas-berkas bukti dari kasus korupsi yang telah dilakukan oleh para penonton kontes tersebut, sehingga yang mereka rayakan sebenarnya adalah terbebasnya mereka dari dakwaan kasus korupsi.
            Iklan ini menyindir para pelaku korupsi yang saat ini marak dilakukan oleh pegawai instansi pemerintahan. Uang pelicin dalam sebuah proses birokrasi dianggap lumrah, dan kasus korupsi yang jelas-jelas merugikan rakyatpun dilakukan tanpa rasa bersalah dan rasa malu. Korupsi telah menjadi budaya yang mendarah daging, dan lolos dari jeratan hukum akibat korupsi dianggap sebagai prestasi. Sehingga tidak mengherankan apabila pembuat iklan ini mengambil sosok para pejabat dan pegawai pemerintahan sebagai ikon untuk melambangkan para pelaku korupsi yang terjadi di negeri ini.
            Di tengah maraknya iklan-iklan yang saling menjatuhkan pasar competitor masing-masing, ataupun iklan-iklan yang hanya sekedar lewat tanpa menyampaikan pesan yang berarti, iklan Djarum 76 ini muncul dan memberi angin segar. Iklan ini dapat menyampaikan pesan moral dan sindiran dengan gaya yang unik dan mengundang tawa.

Faida Nur Rachmawati

 

(c)2009 Live In A Toy. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger