Pages

Sabtu, 13 Oktober 2012

Menggali Fosil Ketoprak #bridgingcourse08

Menggali Fosil Ketoprak

Di tengah maraknya tayangan hiburan di televisi yang saat ini didominasi oleh film-film barat, drama Korea, sinetron-sinetron, serta acara-acara musik, seni panggung Ketoprak seolah telah hilang dari ingatan masyarakat. Kesenian asal Jawa Tengah ini telah tenggelam dalam arus modernisasi. Padahal dulu, Ketoprak memiliki tempat istimewa di lingkungan masyarakat. Seni pementasan ini dahulu begitu dihormati dan dikagumi karena menampilkan sebuah pertunjukan yang mengombinasikan seni peran, seni musik dan sastra sekaligus. Bahkan beberapa kelompok Ketoprak menambahkan unsur seni tari dalam pementasannya. Selain itu, sandiwara yang dilakonkan dalam setiap pertunjukan ketoprak ini sarat akan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa dan juga pesan moral.
            Di akhir era 90-an, saat Ketoprak mulai kehilangan peminatnya, para pecinta kesenian Jawa tersebut masih belum menyerah. Mereka mengemas pementasan  ketoprak dengan memasukkan unsur humor di dalamnya. Tayangan “Ketoprak Humor” yang disiarkan di 2 stasiun televisi merupakan bukti perjuangan para pecinta kesenian Ketoprak kala itu. Pelawak-pelawak ternama juga turut berpartisipasi dalam upaya melestarikan kebudayaan asli Jawa ini. Sebut saja Topan, Lesus, Timbul, dan Tessy. Nama-nama tersebut merupakan contoh pelawak-pelawak yang ikut meramaikan tayangan Ketoprak Humor ini.
 Acara tersebut sempat menjadi hits serta memperoleh rating penonton yang tinggi, meskipun disiarkan menjelang tengah malam. Sayangnya, popularitas tayangan tersebut tidak bertahan lama karena kalah bersaing dengan sinetron-sinetron bertema roman dan kehidupan remaja yang saat itu mulai memenuhi siaran televisi di awal 2000-an.
            Sekarang, bukan hanya bangku penonton pementasan Ketoprak yang sudah ditinggalkan penghuninya, televisipun enggan memberikan porsi untuk penayangan kesenian rakyat yang satu ini. Alasan mengapa Ketoprak dan kesenian tradisional lainnya begitu sulit mendapat kesempatan untuk tampil di televisi karena tayangan-tayangan semacam ini dianggap kurang mampu menarik perhatian pemirsa. Padahal, televisi merupakan sumber hiburan pokok masyarakat Indonesia saat ini. Akibatnya, kecintaan terhadap seni pementasan Ketoprak tidak terwariskan kepada generasi selanjutnya dan perlahan-lahan hilang dari peredaran.
            Jika kita amati, kesenian tradisional semacam Ketoprak ini memiliki nilai kearifan budaya bangsa serta menjadi bukti bahwa nenek moyang kita sebenarnya sudah sangat maju di bidang seni. Unsur-unsur yang terdapat di dalam Ketoprak ini pun memiliki potensi yang tinggi untuk dapat memikat para wisatawan asing. Terbukti dengan banyaknya pelajar asing yang berminat mempelajari gamelan yang merupakan salah satu unsur pokok seni Ketoprak. Contoh lainnya juga dapat dilihat bagaimana pentas teater dan tari Ramayana yang rutin digelar di kompleks Candi Prambanan tidak pernah sepi penonton. Hal ini membuktikan bahwa Seni Ketoprak masih memiliki potensi untuk dapat dibangkitkan dan dikembangkan.





0 komentar:

Poskan Komentar

 

(c)2009 Live In A Toy. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger