Pages

Sabtu, 06 Oktober 2012

Nasib Industri Game Memburuk #bridgingcourse07

           Nasib Industri Game Memburuk

Saat kita berbicara tentang industri game, mungkin hal yang terbayang pertama kali dalam benak kita adalah sebuah industri hiburan raksasa tempat para jenius di bidang kreatif bekerja, meliputi game developer, designer, programmer maupun game tester. Industri multi-billionaire ini telah mempekerjakan ribuan karyawan di seluruh dunia setiap tahunnya dan memberi kontribusi besar terhadap perkembangan teknologi yang ada sekarang ini.

Sayangnya, beberapa tahun belakangan ini, industri game seperti sedang diterpa angin kencang. Banyak kabar-kabar yang kurang mengenakkan ditujukan kepada perusahaan dan para pecinta game. Pasalnya, di beberapa negara pusat game dunia seperti Amerika dan Jepang, penjualan perangkat lunak dan juga konsol game mengalami penurunan yang cukup signifikan. Penurunan angka penjualan perangkat lunak dan konsol game tersebut didukung pula oleh penurunan jumlah gamer itu sendiri, terutama di 3 negara pusat gamer dunia, yaitu Amerika, Eropa, dan Jepang.

            Turunnya pendapatan perusahaan game ini juga berdampak langsung pada manajemen perusahaan game tersebut. Salah satu perusahaan yang merasakan dampak dari turunnya pendapatan perusahaan tersebut adalah Sony. Perusahaan raksasa yang sejak lama dikenal sebagai salah satu penggerak industri game dan konsol taraf internasional ini terpaksa menutup salah satu studio game tertuanya di Liverpool karena kondisi keuangan yang tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Beberapa perusahaan game lain seperti Popcap pun terpaksa merumahkan puluhan, bahkan ratusan karyawannya untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.

Salah satu penyebab mengapa angka penjualan perangkat lunak dan konsol game tersebut mengalami penurunan adalah beralihnya konsumen game dari perangkat console dan PC ke perangkat yang lebih bersifat mobile, seperti smartphone dan tablet. Popularitas smartphone dan tablet yang kian menanjak ini memberi dampak yang besar  kepada penurunan industri game inti (console gaming dan pc gaming). Hal ini disebabkan oleh rutinitas masyarakat saat ini menuntut manusia untuk terus mobile sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk stay di rumah dan bermain game inti seperti PC ataupun konsol game lainnya seperti play station, xbox dan Nintendo.

Selain itu, beberapa alasan lain yang sering dikemukakan perihal pilihan konsumen untuk lebih memilih smartphone dan tablet ini secara garis besar ada dua. Alasan pertama berkait dengan biaya yang harus dikeluarkan. Harga software untuk smartphone dan tablet relative lebih murah dan bersahabat. Bahkan beberapa game dan aplikasi dapat diunduh secara gratis.  Kemudian alasan yang kedua, kepraktisan layanan yang ditawarkan untuk memperoleh game smartphone dan tablet. Konsumen hanya perlu browsing ke application store, memilih game yang diinginkan, dan menginstallnya. Voila, game baru sudah siap untuk dimainkan. Tentunya kedua hal tersebut  menjadi daya tarik sendiri bagi para konsumen, terutama untuk masyarakat yang saat ini mobilitasnya semakin tinggi.

            Di samping hal-hal yang telah disebutkan di atas, ada sebab lain yang bertanggung jawab atas turunnya penjualan perangkat lunak tersebut, yaitu pembajakan. Maraknya pembajakan yang sebagian besar dilakukan oleh hacker-hacker ulung ini tentunya berdampak langsung terhadap tingkat penjualan. Perusahaan game Ubisoft, merupakan salah satu perusahaan yang mengalami kerugian besar akibat tindakan pembajakan yang dilakukan oleh para hacker, karena presentasi pembajakan terhadap produk versi PC mereka mencapai 95%.

Maraknya pembajakan ini tentu tak luput dari masalah ongkos. Mahalnya harga perangkat lunak asli dan kemudahan untuk mendapatkan game bajakan tentu membuat konsumen lebih memilih versi bajakan dibandingkan versi aslinya. Tidak seperti masalah-masalah yang diungkapkan sebelumnya, untuk masalah pembajakan ini, tentunya dibutuhkan kesadaran diri masing-masing untuk memerangi pembajakan tersebut dengan membeli dan menggunakan versi aslinya.

           

1 komentar:

Arief W.S mengatakan...

Jogja mah semua game PC bajakan je, ikut nyumbang juga loh Jogja buat memburuknya nasib industri game.

Poskan Komentar

 

(c)2009 Live In A Toy. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger