Pages

Minggu, 10 Februari 2013

Becoming a fangirl, I guess...

It's been a long time since my last post...

Anyway, liburan super selo ini dengan sangat tidak terduga saya habiskan dengan menonton film-film dan tv series Jepang. Dan secara tidak terduga juga, ternyata saya bisa sebegitu terpukau dengan akting aktor-aktor di film-film Jepang tadi. Sehingga nggak cuma menikmati, beberapa film bahkan saya tonton lagi  berkali-kali. Padahal sebelumnya saya punya mindset negatif  tentang artis Jepang. Mindset negatif ini muncul karena dulu saya pernah menonton sebuah film Jepang dengan artis yang aktingnya menurut saya norak dan cukup bikin risih. Film apa itu? Saya sendiri juga lupa.
Yang jelas, dengan minimnya referensi, sejauh ingatan saya film Jepang yang berhasil memberikan efek “wow” baru Memoirs of Geisha saja. Itupun lupa-lupa ingat karena film ini saya tonton ketika masih SMP. Film Jepang selanjutnya yang saya ingat ya paling Koizora (Sky of Love) dengan tokoh utama Haruma Miura. Saya nonton juga karena karena teman-teman SMA dulu sempat hebring dengan kemunculan film yang menurut saya cukup nggak masuk akal ini (Having sex di perpus sekolah itu…absurd).




Jadi ya sampai di situ aja film Jepang yang aku tonton sepertinya. Karena pada dasarnya memang nggak begitu aware sama film-film dan drama-drama Jepang karena alasan yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Tapi karena suatu hal, mau nggak mau saya diharuskan menulis banyak hal tentang sebuah film berjudul Crows Zero. Sialnya, gara-gara film itu tadi, hati ini digondol dan dibikin semrawut sama beberapa pemain di film itu. Dan seperti fans-fans wanita pada umumya, kekaguman tadi merambat jadi semacam ketergantungan buat nontonin wajah-wajah pria tampan ini di setiap scenenya. 
Tapi baru belakangan saya tahu bahwa banyak partisipan film Crows Zero ini ternyata memang actor-aktor papan atas Jepang yang wajahnya sering berkeliaran di layar kaca (TV Jepang tentunya). Kenta Kiritani (Tokio Tatsukawa), Takayuki Yamada (Tamao Serizawa), Shun Oguri (Takiya Genji), Shunsuke Daito (Kirishima Hiromi), Watanabe Dai (Hidetou Bando) dan Sousuke Takaoka (Shun Izaki) adalah beberapa di antaranya.
Di sinilah Wikipedia menjalankan fungsinya dengan sangat baik. Referensi-referensi film Jepang high quality banyak saya dapat, meskipun belum semua sempat saya tonton karena keterbatasan waktu. Terutama untuk referensi film dan drama yang ada Sousuke Takaoka-san… His irresistible pout and bad-ass face, duh atiku…

Sousuke Takaoka as Shun Izaki at Crows Zero
Kembali ke topik, jadi Sousuke Takaoka ini famous karena sering memerankan supporting role yang menantang di film-film controversial, such as Battle Royale (2000) dan Concrete (2004). Dia juga main di film Pacchigi! (yang ini dapet banyak penghargaan dan merupakan salah satu film terbaik Jepang, katanya sih, saya juga belum nonton), Bokura Ga Ita, Blue Spring, 13th Assasin, dll.  
Berkat film Crows Zero ini almost all of my spare time habis buat mantengin film-film Jepang. Tapi ternyata ada juga temen yang sama-sama broken her replay button gara-gara film Crows Zero ini, yaitu Intan. Dan sekarang kita baru menghabiskan tv series Jepang berjudul Rookies! Di sini Sousuke Takaoka dan Kenta Kiritani jadi anak SMA yang tergabung dalam klub baseball. Kalau TV Series ini rilis tahun 2008, bisa dilihat bahwa mereka memerankan anak SMA di usia hampir 30 tahun. Herannya, masih pantes, dan masih unyu.

Sabtu, 17 November 2012

2012: The Final Prophecy #bridgingcourse11


 2012:  The Final Prophecy


Meskipun ramalan akan datangnya hari kiamat bukan sesuatu yang pertama kali terjadi, namun ramalan kiamat yang berasal dari suku Maya inilah yang dinilai paling menghebohkan dunia. Alasan mengapa ramalan kiamat suku Maya ini begitu populer adalah karena sebelumnya telah ada beberapa ramalan dari suku Maya yang tepat sasaran. Di antaranya adalah ramalan mengenai Perang Dunia ke I dan Tsunami yang menghantam Asia Tenggara pada Desember 2006 silam.
Pada tahun 2009, National Geographic menayangkan film dokumenter berjudul 2012: The Final Prophecy. Dalam film dokumenter ini terangkum perjalanan seorang peneliti dari Princeton University bernama Adam Maloof yang mengelilingi tiga benua untuk membuktikan kebenaran dari ramalan suku Maya tersebut.
Beberapa teori mengenai penyebab kiamat yang diramalkan oleh suku Maya tersebut satu persatu diteliti olehnya. Mulai dari pembuktian teori mengenai pergeseran benua dan juga teori banjir bandang. Adam Maloof juga melanjutkan perjalanannya hingga ke Meksiko dan Jerman untuk mempelajari sejarah serta dokumen-dokumen peninggalan suku Maya itu sendiri.
Isu mengenai kiamat ini sendiri awalnya bermula dari siklus kalender Maya. Menurut kalender suku Maya tersebut, peradaban manusia telah melewati tiga matahari penuh, dan saat ini matahari akan menyelesaikan siklusnya yang keempat. Matahari keempat ini dimulai pada tanggal 13 Agustus 3114 BC yang dilambangkan dengan angka 0.0.0.0.1 dan akan berakhir pada hari ke 13.0.0.0.0 yang jatuh pada tanggal 21 Desember 2012 mendatang. Dasar perhitungan inilah yang menjadi dasar pemikiran kiamat 2012 tersebut.
Hingga film ini selesai, belum ada kesimpulan akhir dari rangkaian penelitian yang dilakukan Adam Maloof ini (kecuali untuk teori pergeseran benua yang ternyata membutuhkan jutaan tahu untuk sampai pada kondisinya sekarang). Selain itu, telah banyak peneliti yang berpendapat bahwa suku Maya sendiri tidak menyebutkan bahwa 2012 merupakan akhir perjalanan manusia (Handwerk: 2009). Sehingga pada dasarnya, tanggal 21 Desember 2012 itu hanyalah awal dari siklus penanggalan yang baru.
Namun di sisi lain, muncul ramalan-ramalan lain yang seolah mendukung akhir siklus kalender tersebut sebagai ramalan kiamat. Salah satunya adalah kitab kuno Tiongkok I Ching yang menyatakan bahwa 2012 akan menjadi tahun yang menutup siklus kehidupan di bumi. Kemudian ada pula ramalan dari para Biksu Tibet (yang terkenal dengan kemampuan Clairvoyance-nya) dan suku Hopi dari Indian, Amerika yang juga meramalkan hal serupa.
Saya pribadi, sebagai umat beragama yang percaya akan eksistensi Tuhan, percaya akan datangnya hari kiamat. Segala sesuatu pasti ada akhirnya. Tapi mengenai kapan datangnya Hari Kiamat itu sendiri, entahlah. Saya tidak berpikir bahwa manusia akan sanggup memprediksi ataupun menentukan tanggal yang pasti, karena saya yakin bahwa hal tersebut adalah rahasia Tuhan.
Namun, terlepas dari perihal percaya atau tidak percaya terhadap ramalan suku Maya mengenai hari kiamat ini, saya sendiri merasa salut pada sosok Adam Maloof yang menurut saya sangat total dalam menjalankan penelitiannya. Hal-hal seputar kiamat yang bagi sebagian orang akan menjadi topik pembicaraan yang menakutkan justru membuatnya penasaran, bahkan ia teliti secara mendalam.
Dan sekarang, hanya tinggal menghitung hari dari waktu Kiamat yang telah diramalkan oleh suku Maya.

Jumat, 09 November 2012

PENGARUH KALENDER JAWA TERHADAP SISTEM SOSIAL DAN TRADISI MASYARAKAT JAWA #bridgingcourse10

PENGARUH KALENDER JAWA TERHADAP SISTEM SOSIAL DAN TRADISI MASYARAKAT JAWA


Waktu merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Manusia akan melakukan aktivitasnya seiring dengan berjalannya waktu. Makan, tidur, bekerja, semua kegiatan akan selalu terikat dengan waktu. Konsep mengenai waktu ini  akan selalu memberikan pengaruh pada setiap aspek perjalanan hidup manusia.
Sebagai makhluk yang berakal, tentunya manusia tidak akan membiarkan waktu yang ada berlalu begitu saja tanpa arti. Seiring dengan semakin majunya tingkat peradaban dan pola berpikir, manusia akan semakin merasakan perlunya program kegiatan yang terencana dalam rangka memberikan arti atau nilai terhadap konsep waktu itu sendiri.
Dalam sub bab Taksonomi Lingkungan Waktu, Tom Bruneau (1979: 143) menyebutkan bahwa, “Nilai Waktu (Temporal Values) merupakan bahasan mengenai pemberian nilai pada waktu-waktu (peristiwa), dan perwaktuan ketika dikaitkan dengan perilaku personal, sosial, dan kultural.” Mengacu pada pendapat yang dikemukakan oleh Tom Bruneau tersebut, cara masyarakat untuk memberikan nilai pada waktu berbeda antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lain, tergantung pada budaya daerah masing-masing. Hal serupa juga telah dikemukakan oleh Larry A. Samovar dan Richard E. Porter (1982: 63) yang menyatakan bahwa, “Kesadaran akan waktu berbeda antara budaya yang satu dengan budaya lainnya.”
            Sebagai bukti atas kedua pendapat tersebut, beberapa kelompok masyarakat merasakan perlunya membuat suatu sistem yang digunakan untuk menandai unsur rentang waktu yang nantinya akan dipakai untuk memberikan nilai pada konsep waktu itu sendiri. Sistem ini disebut dengan sistem penanggalan atau kalender. Sistem penanggalan ini pada umumnya menggunakan patokan hari, bulan, dan tahun yang dihitung berdasarkan rotasi matahari (solar system) atau bulan (lunar system). Untuk unsur-unsur lain yang terdapat pada masing-masing kalender, bergantung pada budaya dan keperluan dari sang pembuat kalender seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
            Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa sistem penanggalan yang telah dikenal luas dan digunakan sesuai fungsinya masing-masing. Misalnya, kalender masehi yang berdasarkan sistem matahari. Kalender ini digunakan sebagai sarana komunikasi dalam lingkup nasional, maupun internasional. Di Bali, masyarakat menggunakan sistem penanggalan Saka untuk kepentingan-kepentingan yang erat kaitannya dengan ritual sehari-hari maupun event keagamaan lainnya. Sementara masyarakat keturunan Cina yang tinggal di Indonesia, banyak dari mereka yang masih memanfaatkan sistem penanggalan yang berasal dari tanah air mereka. Kalender Cina, atau yang sering disebut dengan kalender Imlek ini dibuat berdasarkan sistem bulan dan matahari sekaligus untuk kepentingan-kepentingan yang menyangkut tradisi (Mulyono, 1992: 13).
            Masyarakat Jawa pun memiliki sistem penanggalan yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Sistem penanggalan ini berfungsi sebagai penanda waktu untuk berbagai event, seperti ritual keagamaan, tradisi kerajaan yang berpusat pada Keraton, serta kegiatan kemasyarakatan lainnya. Sistem penanggalan yang dimiliki oleh masyarakat Jawa ini cukup unik karena memadukan unsur budaya Islam (kalender Hijriyah yang berasal dari Arab), Hindu-Buddha (kalender Saka yang berasal dari India), dan sedikit budaya Barat sekaligus.
            Sistem kalender Jawa ini pertama kali dicanangkan oleh Sultan Agung. Beliau mengeluarkan dekrit untuk mengubah sistem penanggalan yang telah lama digunakan oleh masyarakat Jawa saat itu, yaitu kalender Saka. Hal ini beliau lakukan demi menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa. Sejak saat itu, kalender yang resmi digunakan di lingkungan masyarakat adalah kalender Jawa yang menggunakan sistem kalender Lunar (bulan). Namun, kalender Jawa ini tidak menggunakan angka tahun Hijriyah (saat itu 1035 H). Angka tahun Saka kemudian tetap diteruskan karena asas berkesinambungan. Sehingga tahun yang saat itu 1547 Saka, berubah menjadi 1547 Jawa.
            Secara garis besar perbedaan tahun Jawa dengan kalender lainnya terletak pada siklus harian. Kalender Jawa mengenal dua macam perhitungan hari yang digunakan sebagai salah satu perangkat pranata sosial masyarakat Jawa, yaitu Saptawara dan Pancawara (Surjana). Saptawara merupakan siklus tujuh hari yang bersifat Internasional, yang terdiri atas hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Sementara Pancawara adalah siklus perhitungan lima hari bersifat lokal atau yang biasa disebut dengan pasaran yang terdiri atas: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Nama-nama hari yang terdapat dalam kalender Jawa ini merupakan kombinasi dari kedua macam perhitungan hari tersebut, contohnya Senin-Legi, Jumat-Kliwon, Minggu-Pahing dan lain-lain.
            Sistem penanggalan yang baru ini tentunya memberikan pengaruh dan perubahan terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa saat itu. Perubahan yang dilaksanakan Sultan Agung tidak hanya berfokus pada aspek politik saja. Beliau juga menaruh perhatian lebih kepada pengembangan kebudayaan. (Moedjanto, 1993: 98). Sultan Agung melakukan penataan ulang terhadap berbagai upacara dan tradisi bersifat keagamaan agar sesuai dengan ajaran agama Islam. Baik itu yang bersifat perayaan, maupun keprihatinan. Upacara-upacara adat itulah yang untuk selanjutnya dilaksanakan menurut perhitungan kalender Jawa.
Seperti yang telah diketahui umum bahwasanya orang Jawa menyukai perayaan dan keramaian. Mereka menyukai kegiatan berkumpul dan makan bersama. Hampir di setiap kesempatan yang dianggap luar biasa, seperti kelahiran, khitanan, pernikahan, bahkan keberuntungan, orang-orang Jawa ini akan mengadakan selametan. Sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah yang dilimpahkan kepada mereka (Laksono, 2009: 21). Selain itu, mereka juga menggemari bunyi-bunyian yang ramai dan menarik perhatian seperti gamelan. Hal inilah yang kemudian mendorong terciptanya banyak perayaan maupun upacara-upacara adat yang kemudian disesuaikan dengan kalender Jawa sebagai bentuk penyesuaian terhadap sistem penanggalan yang baru tersebut. Fenomena tersebut membuktikan  pendapat David Kaplan dan Albert A. Manners (1999: 82) yang menyatakan bahwa, “Suatu institusi atau kegiatan budaya dikatakan fungsional manakala memberikan andil bagi adaptasi atau penyesuaian sistem tertentu.” Sehingga dapat dikatakan bahwa munculnya perubahan pada perayaan atau upacara tersebut adalah salah satu contoh bentuk penyesuaian yang dilakukan masyarakat Jawa terhadap sistem penanggalan yang baru, yaitu kalender Jawa.
Pada umumnya perayaan dan upacara yang baru ini merupakan kombinasi dari unsur-unsur Islam yang berpadu dengan adat kejawen. Yang paling terkenal karena dilaksanakan dalam skala besar tentu saja, perayaan sekaten dan upacara garebeg. Selain itu, ada pula upacara yang sifatnya lokal karena hanya dilaksanakan bersama orang-orang terdekat atau tetangga sekitar saja, yaitu  upacara tingkeban dan wiwitan.
Perayaan sekaten rutin digelar setiap tahun dan berlangsung selama tujuh hari yang dimulai pada tanggal 5 Mulud dan berakhir pada tangal 11 Mulud. Upacara ini diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang digunakan sekaligus untuk menyiarkan agama Islam di lingkungan masyarakat Jawa pada masa itu. Hal ini dilakukan sebagai strategi dakwah sunan Kalijaga yang melihat peluang dakwah dari kegemaran masyarakat Jawa akan perayaan dan bunyi-bunyian gamelan seperti yang telah disebutkan sebelumnya
            “Dengan menggunakan keindahan seni gamelan, dan dengan melestarikan kehidupan tradisi yang hidup di dalam kehidupan budaya masyarakat, para wali itu menyebarkan ajaran Islam dengan gigihnya. Dan ternyata usaha mereka itu berhasil sehingga tidak sedikit jumlah orang yang tertarik, dan masuk Islam, dan dengan pesatnya agama Islam berkembang di dalam kehidupan masyarakat Jawa.” (Soepanto, 1984: 101)
            Terkait dengan perayaan sekaten tersebut, ada pula upacara garebeg yang dilaksanakan beriringan dengan berlangsungnya perayaan sekaten. Garebeg yang dilaksanakan tiga kali dalam setahun ini memiliki makna khusus baik bagi kasultanan Yogyakarta maupun masyarakat Jawa itu sendiri. Upacara kerajaan ini dilaksanakan untuk memperingati hari kelahiran nabi Muhammad SAW (garebeg Mulud), Idul Fitri (garebeg Syawal), dan Idul Adha (garebeg Besar).
Garebeg itu sendiri merupakan upacara kerajaan yang melibatkan seisi keraton. Segenap aparat kerajaan dari yang berpangkat tertinggi sampai terendah. Selain itu, upacara ini juga melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan mengharuskan para pembesar pemerintah kolonial berperan serta. Dengan menyelenggarakan garebeg, secara publik terlihatlah kehadiran kasultanan Yogyakarta yang baru berdiri itu, sebagai kerajaan Jawa-Islam. Garebeg secara publik juga menjabarkan gelar sultan yang bersifat kemusliman (Mandyokusumo, 1977: 9).
            Dari uraian Mandyokusumo tersebut, dapat dilihat bahwa upacara garebeg ini memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Jawa maupun lingkungan kerajaan. Baik secara politik maupun sosial. Secara politik, upacara ini menegaskan status kerajaan yang bersifat Islam. Sementara dilihat dari segi  sosial, kewajiban seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam upacara adat ini menunjukkan ketaatan masyarakat Jawa kepada kebijakan keraton.
            Dapat disimpulkan bahwa dalam baik dalam sistem yang berlaku, kegiatan sehari-hari, maupun tradisi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat, semua mengandung berbagai makna dan kepentingan yang ingin dikomunikasikan terhadap pihak lain. Hal ini menunjukkan bahwa dalam setiap hasil cipta, rasa, dan karya manusia, mengandung pesan yang ingin disampaikan atau dikomunikasikan kepada pihak yang dituju (Samovar dan Porter, 1982: 14). Dan cara masing-masing orang atau masyarakat dalam mengkomunikasikan maksud dan kepentingan tersebut tentunya berbeda antara satu dengan yang lain yang kemudian mengakibatkan terciptanya keragaman.
            Seiring dengan berjalannya waktu, kemampuan manusia untuk mengomunikasikan apa yang dipikirkannya juga akan semakin bervariasi. Oleh karena itu, tentu untuk ke depannya akan semakin banyak sstem dan tradisi baru yang akan muncul dan berkembang dalam lingkungan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Bratawidjaja, Thomas Wiyasa. 2000. Upacara Tradisional Masyarakat Jawa.      Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Bruneau, Tom. 1979. “The Time Dimension in Intercultural Communication” dalam Komunikasi Antar Budaya. Drs. Deddy Mulyana M.A. dan Drs. Jalaluddin Rakhmat M.A. 1990. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hadiatmaja, Drs. H. Surjana, dan Hj. Kuswa Endah, M. Pd. Tanpa tahun. Pranata Sosial dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta: Grafika Indah.
Kaplan, David, dan Albert A. Manners. 1999. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Laksono, P.M. 2009. Tradisi dalam Struktur Masyarakat Jawa Kerajaan dan Pedesaan: Alih Ubah Model Berpikir Jawa. Yogyakarta: Kepel Press.
Mandyokusumo, KRT. 1977. “Serat Raja Putra Ngayogyakarta Hadiningrat” dalam Garebeg di Kasultanan Yogyakarta. B. Soelarto. 1993.  Yogyakarta: Kanisius.
Moedjanto, G. 1993. The Concept of Power in Javanese Culture. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mulyono, Djoko. 1992. Melihat Saat Tahu Waktu. Jakarta: Studio Delapan Puluh
Purwadi, M.Hum. 2005. Upacara Tradisional Jawa: Menggali Untaian Kearifan Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Samovar, Larry A, dan Richard E. Porter. 1982. “Intercultural Communication: A Reader, 3rd Edition” dalam Komunikasi Antar Budaya. Drs. Deddy Mulyana M.A. dan Drs. Jalaluddin Rakhmat M.A. 1990. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Soepanto, dkk. 1984. Upacara Tradisional Sekaten Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
 

(c)2009 Live In A Toy. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger